Ketika Kerajaan
Singhasari dibawah kepemimpinan Akuwu Tunggul Ametung yang beristrikan Ken
Dedes, kerajaan itu dibawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Pusat pemerintahan
Singhasari saat itu berada di Tumapel. Baru setelah muncul Ken Arok yang
kemudian membunuh Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes, pusat kerajaan
berpindah ke Malang, setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri, dan saat
jatuh ke tangan Singhasari statusnya menjadi kadipaten. Sementara Ken Arok mengangkat
dirinya sebagai raja bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 -
1227).
Kerajaan ini
mengalami jatuh bangun. Semasa kejayaan Mataram, kerajaan-kerajaan yang ada di
Malang jatuh ke tangan Mataram, seperti halnya Kerajaan Majapahit. Sementara pemerintahan
pun berpindah ke Demak disertai masuknya agama Islam yang dibawa oleh Wali
Songo. Malang saat itu berada di bawah pemerintahan Adipati Ronggo Tohjiwo dan
hanya berstatus kadipaten. Pada masa-masa keruntuhan itu, menurut Folklore,
muncul pahlawan legendaris Raden Panji Pulongjiwo. Ia tertangkap prajurit
Mataram di Desa Panggungrejo yang kini disebut Kepanjen (Kepanji-an). Hancurnya
kota Malang saat itu dikenal sebagai Malang Kutho Bedhah.
Bukti-bukti
lain yang hingga sekarang merupakan saksi bisu adalah nama-nama desa seperti
Kanjeron, Balandit, Turen, Polowijen, Ketindan, Ngantang dan Mandaraka.
Peninggalan sejarah berupa candi-candi merupakan bukti konkrit seperti :
- Candi Kidal di Desa Kidal kecamatan Tumpang yang dikenal sebagai tempat penyimpanan jenazah Anusapati.
- Candi Singhasari di kecamatan Singosari sebagai penyimpanan abu jenazah Kertanegara.
- Candi Jago / Jajaghu di kecamatan Tumpang merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Wisnuwardhana.
Pada zaman VOC,
Malang merupakan tempat strategis sebagai basis perlawanan seperti halnya
perlawanan Trunojoyo (1674 - 1680) terhadap Mataram yang dibantu VOC.
Menurut kisah, Trunojoyo tertangkap di Ngantang pada awal abad XIX ketika pemerintahan dipimpin oleh Gubernur Jenderal.
Malang seperti halnya daerah-daerah du Nusantara lainnya, dipimpin oleh Bupati.
Malang seperti halnya daerah-daerah du Nusantara lainnya, dipimpin oleh Bupati.
