![]() |
| (Foto : ainuamri.wordpress.com) |
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memperhatikan ada-adab yang
berkaitan dengan pakaian, diantaranya :
Wajib menutup aurat
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya terhadap
ayat di atas, “Allah telah memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya berupa
pakaian dan raisy (pakaian indah). Pakaian digunakan untuk menutup
aurat, dimana hal ini merupakan perkara yang wajib; sedangkan raisy digunakan
untuk perhiasan, dimana hal ini merupakan penyempurna dan tambahan.” (Tafsirul
Quranil ‘Adziim).
Menutup aurat merupakan adab mulia yang diperintahkan dalam agama islam.
Bahkan, seseorang dilarang melihat aurat orang lain, karena hal tersebut dapat
menimbulkan kerusakan, dimana syariat menutup semua celah terjadinya kerusakan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah
seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya. ….” (HR. Muslim, 338)
Jumhur ulama mengatakan bahwa aurat laki-laki
ialah dari lutut hingga pusar.
Mengenakan pakaian sederhana
Hendaknya seorang muslim meninggalkan pakaian mewah dan mahal. Hal ini
dapat menjauhkannya dari sifat sombong, dan menjadikannya dekat dengan
orang-orang sederhana dan miskin. Selain itu, Allah akan menjauhkannya dari
sifat suka berfoya-foya, serta perasaan iri dan dengki dari sesama muslim.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia
sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan
seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja
yang ingin ia pakai.” (HR. Ahmad, dan Tirmidzi, lihat Silsilatul
Ahaadist ash-Shahiihah : 718)
Memulai dari sebelah kanan
Ummul mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam suka mendahulukan bagian kanan daripada bagian yang kiri
ketika mengenakan sandal, bersisir, bersuci, dan dalam semua urusannya (yang
mulia).” (Muttafaqun ‘alaih)
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kaidah dalam syariat
bahwasanya disunnahkan memulai dengan kanan dalam semua urusan yang berkaitan
dengan kemuliaan dan keindahan. ” (Syarh Muslim : 1/3/160)
Memakai pakaian Putih
Pakaian berwarna putih lebih baik dari pakaian berwarna lain, walaupun itu
tidak terlarang. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Pakailah pakaian berwarna putih, karena pakaian berwana putih
lebih suci dan lebih baik. Kafankanlah jenazah kalian dengan kain putih”
(HR. Ahmad, an-Nasaa’i, dan selain keduanya, lihat Shahiihul Jaami’ :
1235)
Tidak mengenakan pakaian syuhrah (sensasional)
Dikatakan pakaian syuhrah karena pakaian tersebut membuat pemakainya
menjadi pusat perhatian, baik karena jenis pakaian tersebut sangat mewah, atau
sangat berbeda dengan kebanyakan orang, atau pakaian tersebut sudah sangat
lusuh dan compang-camping, atau pakaian tertentu yang dipakai agar menjadi
terkenal.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
memakai pakaian syuhrah, maka Allah akan memakaikan pakaian yang serupa pada
hari kiamat nanti. Kemudian, dalam pakaian tersebut akan dinyalakan api Neraka.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahiihul Jaami’ : 6526)
Tidak memanjangkan pakaian hingga melewati mata kaki
(isbal)
Hadis-hadis yang melarang isbal (bagi laki-laki) sangat banyak, bahkan
mencapai batas hadis mutawatir maknawi. Hadits-hadits dalam masalah ini
diriwayatkan dari banyak shahabat, seperti : Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu
Mas’ud, Abu Huraira, Anas, Abu Dzar, dan selain mereka radiyallahu ‘anhum
ajma’iin.
Diantara hadis-hadis tersebut ialah
- Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Kain sarung yang terjulur di bawah mata kaki tempatnya ialah di neraka.” (HR. Bukhari : 5787)
- Beliau juga bersabda, “Tiga macam orang yang pada hari kiamat nanti Allah tidak akan mengajak bicara, tidak melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” Kemudian beliau melanjutkan, “(Yaitu) musbil (orang yang isbal), mannaan (orang yang mengungkit-ungkit pemberian), dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh al-Albaaniy)
Oleh karena itu, pengharaman isbal secara umum bagi laki-laki merupakan
perkara yang disepakati oleh para ulama.
Isbal dan kesombongan
Isbal merupakan dosa besar jika disertai dengan kesombongan. Isbal juga
tetap diharamkan, menurut pendapat yang paling kuat, walaupun tanpa disertai
kesombongan, karena isbal itu sendiri merupakan kesombongan. Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Hati-hatilah kamu dari isbal, karena
sesungguhnya isbal merupakan kesombongan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahiih
Abi Dawud : 3442)
Dimanakah sebaiknya ujung sarung / celana?
Dalam hal ini, terdapat tiga keadaan dimana semua keadaan tersebut
merupakan sunnah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
- Tepat di tengah betis. ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sarung Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ialah sampai di tengah betis beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sarung seorang mukmin ialah sampai di tengah betis.” (HR. Muslim)
- Sedikit di atas tengah betis. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sarung seorang mukmin ialah sampai sedikit di atas tengah betis, kemudian sampai tengah betis, kemudian sampai dua mata kaki. Maka barangsiapa di bawah kedua mata kaki, maka dia di Neraka.” (HR. Ahmad dan Abu ‘Awwaanah)
- Di antara tengah betis, hingga mata kaki. Batasan ini bisa diambil dari hadis di atas.
Untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci dalam masalah ini, silahkan
meruju’ ke kitab Hadduts Tsaub wal Uzroh, wa Tahriimul Isbaal wa Libaasu
Syuhrah karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.
Tidak memakai emas dan pakaian sutra
Emas dan pakaian sutra haram dipakai oleh kaum laki-laki, tetapi boleh bagi
kaum wanita. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Emas
dan sutra dihalalkan bagi kaum wanita dari umatku, dan diharamkan bagi kaum
laki-laki.” (HR. Ahmad dan Nasaa’i, lihat Shahiihul Jaami’ : 209)
Tidak menyerupai pakaian orang kafir
Diantara sikap yang seharusnya dimiliki seorang muslim ialah berusaha
menyelisihi setiap urusan orang-orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Musyrik
(hindu, budha, dan selainnya). Penyelisihan ini mencakup juga penyelisihan
dalam hal berpakaian.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu
Dawud, Syakh al-Albani mengatakan, “hasan shahiih”)
Tidak menyerupai wanita
Disadari atau tidak, perkara ini telah tersebar di zaman sekarang ini. Kita
banyak mendapatkan sebagian pemuda yang menyerupai kaum wanita dalam
berpakaian, berhias, dan memilih warna. Padahal, perkara itu merupakan perkara
yang dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki, dan
laki-laki yang menyerupai wanita.” (HR. Bukhari 5885)
Beliau juga bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian
wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud dan
Hakim, lihat Shahiihul Jaami’ : 5095).
Bersyukur dan mengamalkan doa-doa yang berkaitan dengannya
Segala kenikmatan yang diperoleh oleh seseorang merupakan karunia dari
Allah Ta’ala semata. Demikian juga dengan pakaian, dimana hal tersebut
merupakan kenikmatan yang sangat agung, juga merupakan karunia dari Allah Ta’ala.
Dia Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami
telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian
indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. … ” (QS.
al-A’raf : 26)
Oleh karena itu, sudah seharusnya kita bersyukur atas itu semua, baik
dengan hati, lisan, dan anggota badan kita.
Di sisi lain, sebagai bentuk kasih sayang Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam kepada kita, beliau telah mengajarkan doa-doa khusus yang
berkaitan dengan pakaian, mulai dari doa ketika kita memakai pakaian baru, doa
kepada orang yang memakai pakaian baru, dan doa-doa lainnya. Maka, hendaknya
seorang muslim bersemangat dalam menghafal dan mengamalkan doa-doa tersebut.
Silahkan meruju’ ke kitab-kitab doa untuk melihat secara rinci tentang hal ini,
misal kitab Hisnul Muslim karya Syaikh Sa’id bin Wahf al-Qahthaaniy hafidzahullaah.
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian kepada kita sebagai
rezeki dari-Nya, tanpa daya dan kekuatan dari kita.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad,
keluarga, shahabat, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka hingga hari
kiamat nanti.
Sumber : Muslim.or.id
Penulis : Prasetyo (Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember)

