Banyak pemuda desa yang
merantau mencari pekerjaan di perkotaan dan menyebabkan peningkatan arus
urbanisasi dan kepadatan jumlah penduduk perkotaan. Kami sangat
cemas dan khawatir tentang masa depan generasi muda dan lenyapnya
keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki oleh petani sekarang karena
tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya Mewariskan pengetahuan
pertanian berkurang.
Pemuda adalah generasi penerus kepemimpinan dan ilmu pengetahuan bangsa. Pemuda bangsa berjumlah mayoritas di pedesaan. Karena hampir sebagian besar penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. Namun ironisnya, banyak pemuda desa yang merantau mencari pekerjaan di perkotaan.
Generasi muda lebih memilih untuk merantau dibandingkan dengan mengembangkan pertaniannya sendiri. Faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda kurang berminat dengan pertanian adalah:
pemuda berpendapat bukan zamannya lagi untuk tinggal
di kampung dan bertani, hasil pertanian kurang mendukung kebutuhan
ekonomi, cara bertani tradisional dinilai kurang efektif, banyak masalah
termasuk kesuburan tanah, hama dan penyakit, masyarakat belum punya
keterampilan pengolahan hasil pertanian, kurang informasi dan
pengalaman, kurang motivasi dari orang tua dan lebih tergiur untuk
merantau.
Padahal kita tahu bahwa pemuda desa belum tentu bisa terpakai di kota. Sarjana saja banyak yang masih menganggur. Bagaimana mungkin dengan
orang-orang muda yang umumnya berpendidikan rendah, bisa mendapatkan
pekerjaan yang memadai? Pendidikan keluarga
turut menentukan seperti apa jadinya generasi kita ke depan.
Ditambahkan bahwa bila sejak kecil orang tua tidak menanamkan
nilai-nilai dan prinsip hidup yang benar kepada anak maka jangan pernah berharap, kelak mereka bisa mengatur hidupnya dengan baik.
Contohnya, Marsid, pemuda asli
Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang pernah bekerja di pabrik sepatu
di Surabaya selama 8 tahun. Harapannya untuk memperoleh penghasilan besar tidak bisa dicapai karena biaya hidup di kota yang serba mahal. Akhirnya,
setelah mempertimbangkan dengan masak, ia memutuskan untuk kembali ke
desa yang dianggap masih menyimpan potensi besar untuk masa depan yang
lebih baik. Dari persoalan itu, Marsid bersama beberapa pemuda desa /
pemudi di dusunnya membentuk suatu wadah untuk mempersatukan pemuda di
tingkat dusun agar dapat berperan lebih banyak di masyarakat.
Organisasinya diberi nama Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Membangun
(OKPM), dan kini sudah berumur 5 tahun.
OKPM telah mengembangkan beberapa
kegiatan di antaranya: Pertama, kerja bakti membangun desa. Kegiatan
yang dilaksanakan setiap hari Jum’at pagi ini dilakukan sebagai wujud
kepedulian pemuda desa dalam membangun dusunnya, melalui: perbaikan dan
pelebaran jalan dusun, perbaikan dan pemeliharaan sarana prasarana
dusun, dsb. Kedua, Pelatihan kewirausahaan. Dengan semangat dan tujuan
untuk memperoleh penghasilan tambahan melalui wirausaha, OKPM
menyelenggarakan pelatihan pengolahan hasil panen dengan saling menukar
resep antarsesama pemuda desa dan petani.
Resep - resep yang dipertukarkan tersebut antara lain: ting-ting
kacang dari Sumbermujur, criping pisang dari Njabon, tomat rasa kurma
dari Senduro, dan resep kripik jahe milik OKPM. Kini, sudah ada 3
anggota OKPM yang berhasil mengembangkan usahanya yaitu Nur, Karmi, dan
Maridem. Ketiga, belajar melalui Pusat Penelitian Perkebunan Rakyat
(P3R). P3R merupakan wadah bagi petani (pemuda/orang tua) di Desa
Pasrujambe untuk belajar melakukan identifikasi, pengkajian, pelestarian
dan pendokumentasian beberapa hal yang terkait dengan pertanian,
khususnya perkebunan.
Sekretariat berada di Dusun
Tulungrejo sehingga semakin menarik minat anggota OKPM yang pada awalnya
kurang paham tentang teknis budidaya dan pengembangan tanaman
perkebunan (kopi, lada) untuk belajar dan aktif di dalamnya. Selain
anggota OKPM, P3R juga banyak beranggotakan alumni SLPHT kopi yang
pernah didampingi oleh Dinas Pertanian Kab. Lumajang.
Jadi, pemuda desa sebagai generai
penerus yang tidak mencintai kegiatan pertanian merupakan akibat dari
kesalahan orang tua yang mengabaikan penanaman budaya cinta pertanian
kepada anak-anak mereka sejak masih kecil. Kiat-kiat khusus untuk
menanamkan budaya cinta lingkungan kepada anak-anak pedesaan antara lain
: pertama, perkenalkan kepada anak-anak kita tentang pertanian, sejak
mereka berusia lima tahun. Kedua, bangun
diskusi bersama anak-anak di sela-sela aktivitas pertanian. Di sawah
merupakan tempat diskusi yang paling efektif untuk mendidik dan
membangun diskusi bersama anak tentang hal-hal yang berkaitan dengan
lingkungan di sekitarnya.
Kita dapat memberitahu kepada
anak-anak tentang apa yang kita lakukan di sawah atau di kebun, mengapa
harus melakukan demikian, apa tujuannya, dsb. Apalagi hal- hal seperti
ini mungkin tidak mereka dapatkan di sekolah. Ketiga, belajar memberi
tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam aktivitas pertanian sesuai
kemampuan mereka. Karena sudah terbiasa dengan bermain di sawah maka
anak-anak lebih cenderung menghabiskan waktu bermain mereka bersama
rekan- rekan seangkatannya di sawah.
Anak-anak sebaiknya dibiasakan untuk ikut
berpartisipasi dalam kegiatannya di sawah. Saat mereka berumur 8-9 tahun
mereka diberi tanggung jawab untuk mengantarkan makanan oleh ibu mereka
ke sawah. Ketika mereka berumur 11 tahun, mereka diminta
menghalau burung-burung saat padi sudah mulai menguning. Tanggung jawab
ini mereka lakukan dengan senang hati, tanpa terpaksa, karena disamping
mereka menjalankan tugas mereka, kegiatan bermain mereka tidak pernah
terganggu.
Keempat, Orang tua berperan sebagai “guru” bagi anak- anak baik di dalam maupun di luar rumah. Mengajar
anak bukan semata-mata tugas seorang guru di sekolah. Tiada hari tanpa
kerja. Orang tua harus selalu menanamkan nilai bahwa kerja di kebun dan
di sawah merupakan suatu keharusan. Kita ini hidup dari ”tanah”
meninggal pun ke ”tanah”. Karena itu, orang tua sebaiknya selalu
mengajar dan mendidik anak-anak sendiri baik di rumah maupun di luar
rumah. Di dalam rumah, orang tua mengajarkan untuk harus terlibat
melakukan apa saja yang mereka mampu lakukan.
Di luar rumah, orang tua
mengajarkan agar tidak ikut-ikutan meniru gaya hidup teman-teman lain
yang ekonomi orang tua mereka mampu. Orang tua selalu menasehati pemuda
desa bagaimana menjadi anak yang bertanggung jawab, tidak membuat orang
tua kesal, dll. Dengan demikian, nasib generasi mendatang sedikit
tidaknya ditentukan oleh apa yang kita wariskan dan tanamkan kepada mereka
sejak saat sekarang. Memimpikan suatu generasi muda yang mencintai
budaya pertanian sudah semestinya dilakukan mulai sekarang.
Kita selaku pemegang tongkat
estafet pertanian saat ini mesti melihat diri kita sebagai pelaku
pertanian saat sekarang dan melihat anak-anak kita sebagai pelaku dan
pemegang tongkat estafet pertanian di waktu yang akan datang sesudah
kita. Bila hal demikian disadari maka persoalan semakin pudarnya minat
generasi penerus terhadap pertanian di desa yang sudah mulai terasa saat
ini tidak akan terjadi. Karena itu komitmen dan tekad kita selaku mitra
masyarakat untuk memberikan pendampingan dan penyadaran kepada masyarakat sangat dibutuhkan.
Generasi penerus yang ada di desa
akan semakin merasa lebih nyaman berada di desa dan memulai usaha
pertanian mereka ketimbang beralih ke kota. Sehingga, diharapkan budaya
bertani tidak akan dipandang sebelah mata oleh pemuda desa kita.
Apalagi, bila RUU Pembangunan Pedesaan segera disahkan oleh DPR RI, maka
pembangunan pedesaan bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa
dan meningkatkan peran masyarakat desa dalam setiap tahapan pembangunan
dengan tetap menjamin terpeliharanya adat istiadat setempat. Amin.
Oleh : Satriya Nugraha, SP
Konsultan Ekowisata, Wirausaha Mesin Abon Ikan “BONIK”
CV FIVASS GENERAL TRADING
satriya1998@gmail.com ; satriya1998@yahoo.com
sumber : http://sosbud.kompasiana.com

