Senin, 18 Agustus 2014

Dusun Jabon Garut

Anak-anak Dsn Jabon Garut
Dusun yang berpenduduk tidak lebih dari 50 kepala keluarga ini terletak pada ujung paling Timur dari wilayah Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon. Dusun Jabon Garut berbatasan langsung dengan Desa Pait, Kecamatan Kasembon. Entah dari mana dan apa arti nama Jabon Garut, kami sampai saat ini belum mendapatkan informasi yang tepat yang bisa menjelaskan. Konon katanya dulu didusun ini sangat banyak tumbuh pohon Jabon, dan pada pohon Jabon tersebut sering ditemukan bekas cakaran-cakaran (Garut-an) kuku, yang dimungkinkan bekas cakaran/garutan kuku macan/harimau. Entah benar atau tidak tapi yang pasti sampai saat ini masih ada beberapa pohon Jabon, yang masih tersisa di dusun ini. Yaitu di tanah milik keluarga RM Tjokro Widjoyo (almarhum).
Udara yang sejuk cenderung dingin sampai 24 derajat celcius pada malam hari serta pemandangan alam yang hijau, sangat nyaman untuk memanjakan diri. Apalagi bagi orang-orang kota yang sehari-harinya sibuk dan selalu berhadapan dengan kemacetan lalu lintas. Singgah di dusun ini sekedar melihat sawah atau bermain di sungai akan menghilangkan penat.
Penduduk dusun Jabon Garut mayoritas bertani sebagai pekerjaan utama dan beternak sebagai sampingan. Walaupun didukung dengan kondisi alam yang sangat subur, tetapi rakyat dusun ini tidak terlalu serius dalam pengembangan pertaniannya.
Hanya tanaman padi yang sedikit serius mereka kelola, baik itu pada sawah milik sendiri maupun tanah garapan yang mereka kelola. Pernah gagal pada percobaan tanaman pertanian lain, membuat mereka enggan mencoba-coba lagi. Hal ini berlaku turun menurun ke anak-anak mereka, yang kebetulan mau meneruskan pekerjaan orang tuanya, karena sebagian besar pemuda dusun ini lebih memilih untuk mencari pekerjaan di Jakarta, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya, bahkan Sumatera dan Kalimantan.

Jika kita berkunjung ke dusun ini, maka akan sulit kita menemui pemuda usia 22 - 28 tahun. Yang kita temui adalah anak-anak usia TK sampai SMA serta Bapak-bapak dan Ibu-ibu serta Kakek Nenek. Ini salah satu penyebab lambatnya pembangunan di dusun ini, bahkan di desa Wonoagung umumnya.